Keberadaan sekolah merupakan tempat menempuh ilmu pengetahuan dan membentuk karakter bangsa. Untuk keberlangsungan kelancaran sekolah maka harus ada suatu lembaga untuk mengatur sekolah. Indonesia sendiri memiliki lembaga negara berupa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menjadi payung untuk mengatur pendidikan dan budi pekerti.

Kemendikbud dalam usahanya membuat berbagai program pendidikan untuk tercapainya tujuan negara dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Demi mendukung terealisasinya pengetahuan dan pembentukan karakter, salah satu program Kemendikbud adalah membuat kurikulum pendidikan berbasis pancasila yang diberi nama Profil Pelajar Pancasila.

Profil Pelajar Pancasila ini terdiri dari enam fokus antara lain Beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia yang terdiri dari lima elemen yaitu akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam dan akhlak bernegara. Selanjutnya adalah berkebhinekaan global, artinya pelajar Indonesia walaupun bersaing hingga taraf internasional tetapi juga harus mengimplementasikan budaya luhur bangsa dan nilai-nilai yang menjadi pedoman bangsa. Bergotong royong adalah adalah salah satu fokus profil pelajar pancasila selanjutnya, Gotong royong merupakan budaya Indonesia dari zaman dahulu. Dalam hal ini diharapkan pelajar Indonesia memegang sifat gotong royong dalam dirinya, karena dengan gotong royong maka kita bisa menyelesaikan masalah negara bersama-sama. Selanjutnya adalah mandiri. Apabila sebelumnya kita dituntut untuk bergotong royong, maka kita juga perlu mengimbangi dengan cara menumbuhkan rasa mandiri untuk tetap percaya kepada diri kita bahwa kita mampu untuk melakukannya terlebih dahulu baru apabila mendapati kendala kita dapat meminta tolong kepada orang lain. Selanjutnya adalah bernalar kritis. Ciri pelajar pancasila yang diharapkan adalah kemampuan untuk selalu kritis dalam menghadapi keterbukaan informasi yang cepat yang keabsahannya dipertanyakan. Apabila tidak berpikir kritis, informasi yang tidak benar bisa menjadi boomerang untuk pelajar pancasila. Terakhir adalah kreatif, dalam menjawab tantangan cepatnya perkembangan zaman selain kita dituntut untuk adaptif kita juga harus imbangi dengan kreatif. Dengan kreatif kita tidak hanya akan menjadi pengikut yang pasif tetapi kita juga bisa menjadi pelajar yang aktif dalam menciptakan inovasi-inovasi yang baru.

Keberadaan program Profil Pelajar Pancasila ini diharapkan berjalan dengan lancar dan terealisasi dengan baik sehingga menjadikan pelajar-pelajar Indonesia memiliki kualitas yang dapat bersaing secara nasional maupun global. Menjadikan pelajar Indonesia dapat menguraikan bahan memecahkan masalah global. Tentu untuk tercapainya cita-cita tersebut harus ada kerjasama juga dari pihak pelajar seluruh Indonesia. Pelajar Indonesia harus punya motivasi tinggi untuk maju dan berkembang menjadi pelajar yang berkualitas internasional dengan karakter nilai kebudayaan lokal.

 

Tags: , , , , , ,